Selasa, 29 Oktober 2013

Komisaris Jenderal Sutarman

Kepala Polri yang baru, Komisaris Jenderal Sutarman, mengatakan, jajaran aparat kepolisian harus menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebencian. Selain itu, aparat kepolisian juga perlu menguatkan integritas personel.

”Saya meminta dan memerintahkan hindari perbuatan yang dapat menimbulkan kebencian,” kata Sutarman dalam acara serah terima jabatan Kapolri dari Jenderal Timur Pradopo kepada Komisaris Jenderal Sutarman di Markas Komando (Mako) Brimob, Kelapa Dua, Depok, Selasa (29/10). Acara itu mengambil tema ”Soliditas dan Dedikasimu Kuteruskan untuk Menghadapi Tuntutan Tugas”.

Menurut Sutarman, jika aparat kepolisian memiliki komitmen yang kuat dan soliditas dengan berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945, Polri akan mampu menjawab tuntutan masyarakat.

Terkait dengan Pemilu 2014, Sutarman juga meminta jajaran Polri bersikap netral dalam semua tahapan pemilu. Ia menambahkan, misi yang akan diterapkan adalah menjadikan polisi sebagai penolong masyarakat.

Dalam sambutannya, Timur Pradopo mengungkapkan, selama kepemimpinannya, salah satu fokus yang ditekankan adalah perlunya pengelolaan situasi keamanan dan lingkungan, khususnya terkait dengan konflik pemilu kepala daerah.

Timur menambahkan, masih ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh Kapolri yang baru. Misalnya, upaya peningkatan kesejahteraan personel Polri. Masyarakat juga belum sepenuhnya tersentuh oleh pelayanan Polri, termasuk perilaku aparat kepolisian yang mencederai masyarakat.

Timur menambahkan, beberapa kejahatan, seperti terorisme, narkotika, dan korupsi, tetap harus menjadi prioritas Polri ke depan.
Ubah Karakter

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengatakan, salah satu tantangan Komjen Sutarman seusai dilantik sebagai Kapolri ialah mengubah karakter polisi Indonesia. Tantangan berat itu menyusul relatif buruknya mekanisme perekrutan dan keputusan penugasan yang tidak didasarkan pada merit system dengan keharusan menempatkan orang-orang terbaik.

”Ini sudah jadi karakter polisi, kalau menghadapi uang dan kekuasaan cenderung tidak berdaya, takut, serta tidak transparan. Tapi, ketika menghadapi orang yang tidak punya uang dan kekuasaan, mereka sangat profesional,” kata Neta. Ia mencontohkan dalam penanganan kasus perusakan properti milik pengusaha Adiguna Sutowo yang bertele-tele.

Selain itu, kemampuan polisi di jajaran bawah, kata Neta, juga masih sangat lemah. Hal itu tecermin dari tidak pro-aktifnya sebagian di antara mereka dalam upaya mengungkap kasus-kasus tertentu.

”Ini menyebabkan satu atau dua orang anggota masyarakat terluka atau bahkan terbunuh. Ini membuktikan jajaran terbawah di kepolisian tidak terlatih dan tidak peka,” ujar Neta.

Sementara di sisi lain, anggota polisi di tingkatan bawah juga mesti menghadapi permusuhan dari sebagian masyarakat yang ditandai dengan peristiwa pembakaran markas atau pos polisi. Bahkan, pada sejumlah kasus, terjadi pengeroyokan hingga penembakan misterius terhadap sejumlah polisi.

Ia mengatakan, dugaan praktik mafia pendidikan serta mafia jabatan juga masih cukup banyak terjadi di dalam institusi tersebut. ”Bahkan, pekan lalu ada info ketika ada polisi mengikuti pendidikan dari bintara ke jenjang pendidikan calon perwira itu mesti dikenakan pungutan,” ujar Pane.

Baca juga: Kedaulatan Negara.


0 komentar: