Jumat, 18 November 2011

Taiwan 14 Januari 2012

Sejarah baru akan tercipta di Taiwan 14 Januari 2012. Untuk kali pertamanya, Republik China akan menggabungkan dua pemilihan umum sekaligus: pemilihan presiden dan pemilihan anggota parlemen.

Ada tiga pasangan calon yang akan berlaga. Dua di antaranya diperkirakan bertarung sengit. Mereka adalah kandidat incumbent, Presiden Ma Ying-jeou dari partai berkuasa, Kuomintang dan lawannya dari partai oposisi, Demokratic Progressive Party (DPP), Tsai Ing-wen. Nama terakhir adalah perempuan pertama yang maju dalam pemilihan presiden, sepanjang sejarah Taiwan.

Saat ini, pemilihan tinggal menghitung hari. Dua partai terus berkampanye, untuk menggenjot dukungan. Salah satunya di markas Kuomintang di Taipei, Jumat 18 November 2011, sebuah acara karaoke bersama diselenggarakan untuk para pendukung. Yang hadir --mayoritas berusia paruh baya-- ikut bernyanyi dengan semangat, sembari meneriakkan slogan kampanye. Ruangan semarak dihias dengan bendera Taiwan, besar dan kecil.

Gedung Kuomintang

Selain isu dalam negeri, soal masa depan hubungan dengan Republik Rakyat China atau China Daratan jadi isu utama yang memicu debat panas. Kedua partai punya sikap yang relatif bertolak belakang.

Direktur Chinese Nationalist Party (Kuomintang/KMT) yang membawahi departemen urusan luar negeri, Daniel T M Hsia, di bawah pemerintahan Presiden Ma Ying-jeou, Taiwan memiliki hubungan dekat dengan China. Dua negara juga mencapai kesepakatan.

“Taiwan menjadi lebih aman. Orang-orang --baik dari Taiwan atau China Daratan-- bisa saling mengunjungi satu sama lain,” kata dia di markas Kuomintang, Jumat 18 November 2011.

Kesepakatan penting lain yang dicapai adalah soal ekstradisi. Di mana pun penjahat bersembunyi di China, mereka akan dikembalikan ke Taiwan. Demikian juga sebaliknya.

Melontarkan kritik pada lawan, Daniel mengatakan, oposisi atau DPP tidak bisa mewujudkan perdamaian bagi 23 juta penduduk Taiwan. “DPP tidak bisa menjaga perdamaian lintas selat (dengan China). Sikap mereka tidak realistis, DPP berorientasi pada perang, tak ada aksi perdamaian atau kerja sama,” kata dia.

Dia menambahkan, partainya berusaha menjalin hubungan lebih damai dengan China dengan menghasilkan sejumlah kesepakatan. “Kami memperlakukan China seperti halnya saudara, sebaliknya, DPP menganggap China seperti musuh,” kata dia. Bagi Kuomintang, China adalah negara besar, terletak di sebelah Taiwan, oleh karena itu perlu digandeng dan diajak kerja sama.

Menurut dia, selain pencapaiannya, Ma Ying-jeou dianggap layak memimpin Taiwan karena ia dikenal bersih. Misalnya, “Ketika bayi lahir, biasanya orang memberi angpao berisi ribuan dolar Taiwan. Sekarang kami tak perlu melakukannya lagi (budaya amplop).”

Ini juga berlaku dalam proyek-proyek pembangunan. Diklaim bebas uang pelicin yang biasanya mengalir ke kantung para pejabat dan pembuat keputusan. Citra bersih ini menjadi salah satu faktor yang menarik dukungan. “Saat ini kami punya satu juta anggota partai. Ini bisa dilihat dari jumlah kartu anggota,” tambah dia.

Salah satu tantangan sekaligus peluang yang dihadapi partai adalah mendapat suara dari kaum muda. “Kami punya banyak kebijakan menarik anak muda ke politik. Misalnya, dengan memberikan pinjaman dengan bunga rendah bagi mereka untuk membeli rumah, menciptakan keluarga, juga menghasilkan banyak anak,” kata dia. “Kami memegang rekor soal dukungan kaum muda. Karena Kuomintang mendengarkan suara kaum muda. Mereka (oposisi) tidak seperti itu,” dia menambahkan.

Oposisi: Kedaulatan harga mati

Di tempat terpisah, markas Demokratic Progressive Party (DPP) yang terletak di New Taipei didominasi warna kuning. Ada celengan babi besar berwarna merah jambu, juga para aktivis paruh baya --mengenakan rompi pink-- hilir mudik di dalam gedung.

Direktur Departemen Urusan Internasional DPP, Huai-Hui Hsieh mengatakan, kandidatnya, Tsai Ing-wen adalah pemimpin partai politik pertama yang berjenis kelamin perempuan. “Sekaligus capres perempuan pertama dalam sejarah Taiwan,” kata dia.

Dia menambahkan, dibanding saingan terdekatnya, Kuomintang, partainya memprioritaskan kesejahteraan. Mengatasi pengangguran dan masalah perumahan misalnya, dan memenuhi harapan masyarakat yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

“Persoalan politik tingkat tinggi (high politic) memang penting, namun bagi kami, kehidupan rakyat sehari-hari lebih penting dari sekadar politik,” kata dia.

Bagaimana soal masa depan hubungan dengan China?

Huai-Hui Hsieh mengatakan, partainya fokus pada kepentingan nasional. “Kami menjamin kami akan lebih terbuka. Kami ingin negara ini memiliki status yang lebih terhormat di tengah masyarakat internasional. Kami tak ingin menjadi bagian dari China --yang kini sedang berkembang pesat,” kata dia.

Memang, dibandingkan Kuomintang yang punya hubungan relatif dekat dengan China, DPP ada di posisi berbeda. Namun, dia menambahkan, DPP tetap ingin di jalan damai. “Banyak orang mengatakan, jika hubungan dengan China terjalin, maka keadaan akan baik-baik saja. Tapi, seperti apa relasi yang harus kami jalani --seberapa dekat hubungan, ini tergantung konsensus masyarakat.”

Kritik lantas dilontarkan pada Kuomintang. “Hubungan mereka selama ini lebih antara partai dan partai. Tanpa transparansi dan partisipasi massa,” kata ibu satu anak itu.

Jika nantinya DPP memenangi pemilu dan berkuasa, bagaimana nasib hubungan Taiwan dengan China?

Huai-Hui Hsieh mengakui, terjadi perdebatan, apakah akan meneruskan kesepakatan yang dicapai pemerintahan Kuomintang atau menghentikannya. “Tapi kami tak akan memutuskannya, justru kami ingin membangun kembali kesepakatan. Jika terjadi ketidaksepakatan, adanya tekanan massa misalnya, berhenti atau memperbaiki (hubungan dengan China), akan diputuskan dengan cara sedemokratis mungkin,” kata dia.

Namun, ia menambahkan, pihaknya akan terus mempertahankan prinsip. “Tak akan menyerahkan kedaulatan negara, di mana rakyat kami sangat menikmati demokrasi,” kata dia.

Yang jelas, Huai-Hui Hsieh menambahkan, pihaknya akan bersikap hati-hati. “Kami akan meminta dukungan dan bantuan negara lain terkait hubungan kami dengan China.”

Dia mengakui, bukan persoalan mudah untuk mengalahkan Kuomintang. Terutama terkait sumber pendanaan kampanye. Kini mereka menggalang dana dari pendukung, semampu yang mereka bisa berikan. Dengan simbol celengan babi. “Terinspirasi seorang anak kecil yang menyerahkan celengan babinya pada kandidat kami.”

Sementara itu, seperti dimuat Business Week, 17 November 2011, kandidat dari DPP, Tsai Ing-wen memberi sinyal ia akan menjauhi sikap antagonis dengan China. “Saya bukan seorang yang provokatif,” kata lulusan London School of Economics ini. “DPP saat ini berbeda dengan yang ada di masa lalu.”


Minggu, 06 November 2011

Wali Kota Lubuklinggau H Riduan Effendi

Wali Kota Lubuklinggau H Riduan Effendi menegaskan, tidak ada libur tambahan Hari Raya Idul Adha 1432 Hijriah bagi pegawai negeri sipil (PNS), kecuali hari libur nasional yang sudah ditetapkan pemerintah pusat.

“Saya tegaskan, tidak ada libur tambahan atau cuti bersama Idul Adha,kecuali Minggu yang memang bertepatan dengan hari libur nasional. Kalau kedapatan tambah hari libur, akan diberi sanksi tegas,” ujar Riduan di hadapan ribuan PNS. Menurut dia, PNS sudah diberikan kelonggaran waktu untuk membeli kebutuhan Lebaran kemarin.

Untuk mengetahui siapa saja PNS yang tidak masuk kerja pada Senin (7/11), dia sudah memerintahkan setiap kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) memantau kehadiran bawahannya di kantor. “Kepala SKPD mencatat anak buahnya yang tidak masuk kerja dan akan diberi sanksi,”tandasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Lubuklinggau Agus Sugianto menegaskan, tidak ada libur tambahan bagi perangkat pengajar dan peserta didik di sekolah. “Senin masuk seperti biasanya, tidak ada libur tambahan. Apalagi, kita akan menyambut api SEA Games,”ujar dia.